Beranda > Islami, Materi kuliah > Ahlul Bait Keluarga Rasulullah Saw Dalam Perspektif Sunni dan Syiah

Ahlul Bait Keluarga Rasulullah Saw Dalam Perspektif Sunni dan Syiah

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak memintakepadamu sesuatu upahpun atas seruanku,kecuali kasih sayang  dalam kekeluargaan, dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha mensyukuri.
Artinya: “Wahai manusia, Sesungguhnyaaku telah tinggalkan pada kalian sesuatu yang jikakalian mengikutinya maka kalian tidak akan sesatuntuk selama-lamanya, yaitu kitab Allah dan keluargaku Ahlulbaitku (Shohih Turmudzi, V;662)”

Al –Qur’an mulia adalah sumber pemikiran, undang-undang dan norma-norma, yang esensinya adalah wahyu Tuhan yang suci. Al-Qur’an adalah pola bagi  hidup dan kehidupan, Al-Qur’an menentukan segala aturan bagi kehidupan. Setiap muslim wajib mengetahui dan memahami, bahwa yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah syari’at dan risalah-Nya, yang mana umat manusia bejalan di atas petunjuk-Nya.

Al-Qur’an telah bercerita tentang Ahlulbait as. Dengan menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berikut : 1) Dengan memberikan gelaran atau istilah tertentu. Pada suatu ayat, Al-Qur’an menyebut mereka dengan “Ahlulbait” sebagaimana dalam ayat tahrir (QS. Al-Ahzab:33), dan dalam ayat lain menyebut “Al Qurba”, sebagaimana ayat “Al-Mawaddah” (QS. Asy-Syura:23). Banyak lagi ayat Al-Qur’an dan sunnah Nabi  yang berkaitan dengan Ahlulbait Nabi, sebagaimana diriwayatkan para ahli tafsir dan ahli hadits dalam kitab-kitab mereka. 2) Al-Qur’an mendokumentasikan beberapa peristiwa dan kejadian khusus berkaitan dengan Ahlulbait as. Beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan, banyak menceritakan keutamaan dan kedudukan mereka, memuji mereka serta mengarahkan umat ke pada mereka. Terkadang Al-Qur’an menyebutkan mereka secara bersama-sama, seperti dalam ayat mubahalah (QS. Ali ImraN:16), ayat Ith’am dalam surat al-dahr dan lainnya, terkadang pula secara terpisah sebagaimana dalam ayat al-Wilayah (QS. Al- Maidah:55). “ Sesungguhnya pemimpin kalian itu adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yang mendirikan shalat dan memberikan zakat sambil ruku’.

PESAN SEKARANG

CARA PEMESANAN: Silahkan pesan dengan cara memilih salah satu di bawah ini. Akan segera saya kirimkan ke Email anda secepatnya setelah konfirmasi pembayaran melalui sms.

PILIH SALAH SATU SAJA
–> Isi Pulsa Rp 5,000 Ke Nomor 085730190092
–> Cara lain dapat mengisi pulsa elektrik Rp 5,000
Atau transfer uang Rp 5,000 ke:
–> BNI: 0152388419
–> Semua atas Nama: Rifaun Na’im
Pilih salah satu cara di atas, kemudian kirim konfirmasi pembayaran ke nomor 085730190092

MATERI INI TERDIRI DARI 3 HALAMAN BERUPA MS.WORD
SILAKAN PESAN SEKARANG HANYA RP 5,000

Mari, buruan sebelum harga kami naikkan dan terus naik sesuai dengan banyaknya permintaan. Sudah 30 orang yang memesan materi ini sesuai judul di atas.

  1. elfan
    Agustus 2, 2012 pukul 7:42 am

    APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. yakni para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifat dan maknanya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ke-‘nasaban’-nya, sayang tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, artinya kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang dijadikan patokan nasab seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya bukan dari anak lelakinya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: